FOKUSMEDIA.CO.ID — Bupati Nganjuk Marhaen Jumadi turun langsung menjenguk para siswa SMAN 3 yang dirawat akibat dugaan keracunan makanan, Kamis (3/9/2026). Dari total 127 siswa yang terdampak, sebanyak 33 anak masih harus menjalani perawatan di bangsal penanganan karena gejala yang dialaminya cukup berat.
Marhaen menyisir satu per satu ruang perawatan untuk memantau kondisi para korban dan memberikan motivasi agar mereka segera pulih. Keracunan massal ini terjadi setelah para siswa menyantap menu MBG yang disajikan pada Rabu lalu.
Dua Jam Setelah Makan, Puluhan Siswa Mual dan Muntah
Gejala keracunan muncul sekitar dua jam setelah konsumsi makanan. Menu yang disantap para siswa saat itu adalah nasi goreng dan ayam suwir. Keluhan yang dilaporkan beragam, mulai dari mual, pusing hebat, hingga muntah-muntah, sehingga siswa langsung dilarikan ke puskesmas dan rumah sakit terdekat.
Marhaen mengatakan, kejadian ini langsung dikoordinasikan dengan BGN. Pemerintah daerah tidak ingin penanganan medis terhambat oleh persoalan administrasi pembiayaan, terutama bagi siswa yang membutuhkan perawatan lebih lama.
Pemkab Siapkan Skema Pembiayaan Ganda
"Kami akan berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional mengenai pembiayaan perawatan para korban. Namun jika dibutuhkan, Pemkab Nganjuk siap menanggung seluruh biayanya," kata Marhaen dalam keterangannya, Kamis (3/9/2026).
Pernyataan itu menjadi jaminan bagi orang tua siswa yang mengkhawatirkan biaya perawatan. Hingga kini, belum ada rincian pasti jenis perawatan yang dijalani para siswa, tetapi 33 pasien yang dirawat intensif dipastikan mendapat pengawasan ketat dari tim medis.
Pengawasan Keamanan Pangan Program MBG Dipertanyakan
Insiden ini kembali menyorot prosedur keamanan pangan dalam rantai distribusi program MBG. Nasi goreng dan ayam suwir merupakan dua jenis olahan yang rawan terkontaminasi jika proses penyimpanan atau pengolahan tidak sesuai standar suhu dan higienitas.
Pemkab Nganjuk belum menyampaikan hasil investigasi awal penyebab kontaminasi. Namun, kunjungan langsung bupati ke lokasi perawatan mengindikasikan kasus ini akan ditindaklanjuti secara serius, termasuk audit terhadap penyedia makanan yang bertugas di SMAN 3.
Sekolah dan dinas terkait masih memantau perkembangan kondisi siswa untuk mengantisipasi munculnya korban tambahan dengan gejala yang lebih lambat muncul. Para siswa yang tidak merasakan gejala juga diminta tetap waspada dan segera melapor jika mengalami keluhan serupa.