FOKUSMEDIA.CO.ID — Sebanyak 90 persen perkembangan otak anak berlangsung pada usia 0–5 tahun, dan asupan gizi yang kurang bisa berdampak permanen. Selama tiga hari berturut-turut, warga Gampong Laksana, Lampulo, dan Lamdingin di Banda Aceh mendapat sosialisasi MPASI plus bantuan nutrisi berupa buah, sayur, dan telur. Berikut rangkuman pesan penting soal gizi anak dan kesehatan ibu dari kegiatan tersebut.
Farid Nyak Umar, Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh, menginisiasi kegiatan Sosialisasi dan Pemberian Asupan Nutrisi untuk Anak. Kegiatan ini menyasar tiga gampong di Banda Aceh selama tiga hari berturut-turut.
Hari pertama digelar Senin (14/9/2026) di halaman Masjid Al Huda, Gampong Laksana. Selanjutnya di Meunasah Gampong Lampulo pada Selasa (15/9/2026), lalu di Masjid Al Abrar, Gampong Lamdingin, Rabu (16/9/2026).
Warga datang membawa balita dan bayi masing-masing. Mereka mengikuti sesi sosialisasi, lalu pulang dengan satu talam bekal nutrisi berisi buah-buahan, sayur-sayuran, dan telur.
Mengapa 0–5 Tahun Jadi Masa Paling Krusial
Farid menyebut 90 persen perkembangan otak anak terjadi pada usia 0–5 tahun. Kekurangan gizi di rentang usia itu bisa meninggalkan dampak yang menetap.
"Kualitas tumbuh kembang anak adalah indikator utama kemajuan suatu daerah," ujar Farid. Menurutnya, anak sehat tidak lahir begitu saja, tetapi tumbuh dari keluarga yang peduli dan layanan kesehatan yang terjangkau.
Ia juga menegaskan stunting bukan sekadar soal tinggi badan. Kondisi ini menyangkut kecerdasan, produktivitas, dan masa depan generasi.
MPASI dan Edukasi Gizi Jadi Materi Utama
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Cabang Aceh. Di Posyandu Harapan Ibu Gampong Laksana, materi diisi oleh Meiliza.
Posyandu Cahaya Mata Gampong Lampulo menghadirkan dr Khairunnisa, M. Gizi, Sp. GK. Sementara Posyandu Melati Gampong Lamdingin menghadirkan dr. Nanda, Sp. OG dan dr Bengi Muthmainnah.
Para pemateri memberikan sosialisasi tentang MPASI kepada ibu yang memiliki bayi dan balita. Edukasi ini menyasar cara memenuhi asupan gizi anak sehari-hari.
Kesehatan Ibu, Titik Awal Siklus Kehidupan
Farid mengingatkan tidak ada anak yang sehat tanpa ibu yang sehat. Karena itu, perhatian pada gizi ibu hamil dan menyusui menjadi bagian penting dari program ini.
"Kesehatan ibu adalah titik awal seluruh siklus kehidupan," kata Farid. Ibu yang mendapat pendampingan kehamilan, edukasi gizi, dan dukungan psikologis dinilai akan melahirkan generasi yang lebih kuat.
Ia juga menyoroti pentingnya pendampingan emosional dan sosial bagi ibu. Kesehatan mental ibu berpengaruh langsung pada tumbuh kembang anak.
Peran Posyandu dan Kader di Lapangan
Posyandu disebut Farid sebagai ruang aman bagi ibu untuk bertanya, belajar, dan mendapat layanan dasar kesehatan. Di sana, pemantauan berat dan tinggi badan anak, imunisasi, hingga deteksi dini risiko kesehatan bisa dilakukan.
Farid memberi penghargaan tinggi kepada para kader Posyandu. Menurutnya, mereka bukan hanya relawan, tetapi penggerak perubahan perilaku kesehatan di masyarakat.
"Kader Posyandu adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang menjaga masa depan generasi kita," ujarnya.
Kapan Ibu Perlu Segera ke Dokter
Sosialisasi seperti ini penting, tetapi ada kondisi yang tidak bisa ditunda. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika berat badannya tidak naik dalam dua bulan berturut-turut atau ia tampak lemas dan enggan makan.
Untuk ibu hamil dan menyusui, konsultasi ke dokter bila mengalami pusing berat, perdarahan, atau penurunan nafsu makan yang berlangsung lama. Jangan menunggu jadwal posyandu berikutnya.
Sebagai Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh, Farid berkomitmen mengawal kebijakan dan anggaran kesehatan ibu dan anak. Ia juga mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk gampong, tenaga kesehatan, dan lembaga pendidikan, agar program pencegahan stunting berjalan tepat sasaran.
"Kami percaya bahwa investasi pada kesehatan ibu dan anak adalah investasi jangka panjang bagi kemajuan Banda Aceh," tutup Farid.